Breaking News
Loading...
Friday, 4 May 2012

Kembali Ke Pesantren: Menguatkan Ruh NU dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara


Oleh: KH. Said Aqil Siroj

Perjalanan Nahdlatul Ulama adalah perjalanan bangsa Indonesia. Kader Nahdlatul Ulama yang tersebar di berbagai macam profesi dan pengabdian di sepanjang sejarah peradaban bangsa ini telah teruji disatukan oleh visi besar NU. Realitas inilah yang telah mengokohkan Indonesia.

Pada Muktamar ke 32 tahun 2010 lalu, berbagai persoalan, pemikiran, pandangan bermunculan hasil proses refleksi atas perjalanan Nahdlatul Ulama. Saya pun mengalami hal yang sama mengingat aktifitas saya tidak pernah lepas dari denyut nadi Nahdlatul Ulama. Salah satu isu besar yang menggulir di arena Muktamar NU ke 32 tersebut adalah gagasan Kembali ke Pesantren.

Gagasan ini muncul bermula dari fakta kontribusi pondok pesantren terhadap NU. Berkat pesantren, NU dapat bertahan dan bahkan menjadi organisasi Muslim terbesar di dunia hingga saat ini. Kekuatan NU berada di pesantren. Tanpa pesantren, NU hanya akan tinggal nama. Namun di sisi lain muncul juga fakta bahwa dewasa ini karakter pesantren sedikit demi demi sedikit bergeser menjauhi NU. Ada kecenderungan NU menjauhi pesantren, baik dari sisi nilai maupun gerakan implementasi.

Saya berpandangan bahwa Nahdlatul Ulama beserta berbagai perangkatnya harus kembali ke pondok pesantren. Terlebih perhatian NU harus diarahkan kembali kepada basisnya di pesantren.

Kembali ke pesantren bukan berarti para pengurus NU harus kembali mondok. Bukan juga bermaksud mensterilkan NU dari aktifitas sosial politik. Kembali ke Pesantren adalah kembali kepada cara berfikir pesantren, cara hidup pesantren, dan cara pandang pesantren. Termasuk berpikir keras memajukan masyarakat pesantren.

Pada aspek antropologi, kader NU yang berjuta-juta itu perlu kembali didorong untuk hidup dengan nilai-nilai pesantren: hikmah, kebijaksanaan, kesederhanaan dan kemandirian. Maka secara organisatoris NU harus menjadi inisiator agar upaya ini menjadi gerakan sistematis hingga mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kembali ke pesantren dalam konteks yang lebih mikro upaya memperkokoh ulama sebagai figur penting gerakan sekaligus referensi vital dalam tubuh NU. Berarti secara otomatis mendorong 70 juta Nahdliyin untuk beraktifitas dalam tuntunan para kiai/ulama pondok pesantren.

Pada ranah yang lebih luas, kembali ke pesantren akan menjadi gerakan NU-melalui para ulama dan salafus salih-untuk menguatkan lagi sinergi antara Islam dan budaya. Masyarakat harus terus dikawal agar tidak gamang dalam berislam di tengah kekayaan budaya Indonesia. Hanya pesantren yang mampu memberi legitimasi pola hidup berislam yang berbudaya lokal. Secara nasional berarti hanya NU yang mampu meyakinkan masyarakat tentang kebenaran hidup berbangsa dan bernegara dengan corak seperti itu.

Kembali ke Pesantren merupakan wujud dari keinginan luhur para ulama dalam membangun peradaban besar. Kreasi para ulama mendirikan NU dan menentukan model negara Indonesia harus diteruskan dengan gerakan mempertahankan corak berislam, berbangsa dan bernegara khas Indonesia. Kelahiran NU didorong oleh semangat kebangsaan yang tinggi. Karena itu adalah suatu keharusan jika NU merevitalisasi gerakannya agar kualitas kehidupan masyarakat terus terjamin dan terkontrol.

Kembali ke pesantren dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini memerlukan langkah strategis, pertama, mengokohkan spirit agama sebagai ruh politik kebangsaan. Kedua, mengokohkan nilai NU dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketiga, meningkatkan pemahaman agama secara komprehensif di kalangan masyarakat.

Nilai dan tradisi NU muncul sebagai kekuatan manakala praktik politik yang berkembang merugikan bangsa. Khazanah keislaman model NU juga kekuatan tersendiri mempertahankan pandangan hidup yang toleran, menghargai pluralitas, dan sehingga terhindar dari fanatisme dan ekstrimisme.

Maka gerakan kembali ke pesantren adalah upaya memperkuat ruh NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian Islam akan berjalan sesuai dengan misinya sebagai pengemban perdamaian. Kembali ke pesantren juga peringatan NU kepada semua pihak agar terus belajar dan memahami agama secara benar dan jujur.


Post: PCNU Kota Malang
Repost: Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah 

0 comments:

Post a Comment

Berita Duka: Telah dipanggil ke haribaah Allah SWT, KH. Dja'far Shodiq Aqil Siraj, Pengasuh Pesantren Kempek, Cirebon- Saudara Tertua KH. Said Aqil Siraj (Ketua PBNU), Semoga Allah Memberikan Tempat Terbaik untuk beliau. PP RMI NU Turut Berduka Sedalammnya. Lahul Fatihah -- Kritik, Saran, Artikel, Atau Info lainnya silahkan kirim ke redaksi@rmi-nu.or.id -- RMI NU - MEDIA PESANTREN --